Ngunduh Mantu Unik di Klaten lewat Lomba Panahan Tradisional

0
76
Salah satu peserta panah berkuda dalam resepsi ngunduh mantu di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Minggu (15/7). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

KLATEN – Penyelenggaraan ngunduh mantu yang diselenggarakan keluarga besar Bambang Minarno, untuk anak laki-lakinya Muhammad Yahya Ayyash, 17,  dengan pasangan hatinya Royhanah, 20, berjalan begitu megah.

Pasalnya, para tamu undangan disuguhkan berbagai hiburan. Salah satunya berupa pertunjukan Gladen Ageng atau latihan bersama memanah dan panahan berkuda.

”Kami mengangkat konsep ini untuk menghidupkan tradisi panahan berkuda, yang pada peradaban Islam  terakhir kali diselenggarakan pada 200 tahun lalu di Turki. Pertunjukan panahan berkuda ini sebenarnya sering kali menjadi hiburan untuk berbagai acara di zaman itu. Nah spirit ini yang coba kami munculkan untuk pertama kalinya di Indonesia,” jelas Bambang yang juga Ketua Komunitas Panahan Berkuda Indonesia (KPBI)  Cabang Jogja dan Solo ini, saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (17/15).

Konsep berbeda ini ditampilkan dalam sebuah resepsi pernikahan yang diselenggarakan di lapangan sepak bola milik Dodiklatpur Rindam IV Diponegoro di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan.

Prosesi gladen ageng berupa perlombaan panahan tradisional diikuti 99 pepanah dari 12 provinsi. Acara ini jadi momen hiburan pesta pernikahan tersebut.

Sementara itu mempelai laki-laki berulang kali memperlihatkan ketrampilannya dalam memanah sambil berkuda dengan menempuh lintasan sekitar 50 meter. Target sasarannya pun berupa kendi serta kobak (potongan logam) dengan bentuk menyerupai tutup panci setinggi 10 meter. Sesekali Ayyash mengenai target hingga mengundang decak kagum serta tepuk tangan dari tamu undangan.

Sang ayah yakni Bambang pun tidak ingin kalah dengan anaknya sehingga melakukan hal yang sama. Menggunakan baju adat Jogja sambil menunggangi kuda kesayangannya, Bambang menunjukan keterampilannya dalam memanah dengan mengusung konsep seperti yang pernah dilakukan pada Kesultanan Turki Utsmani, serta kerajanan di nusantara.

Ia mengungkapkan, ada nilai-nilai adiluhung yang bisa diserap dalam kegiatan panahan tradisional tersebut. Yakni mengajak untuk menjadi pepanah yang beradab dengan menerapkan sopan-santun dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk melatih kesabaran, mengasah sikap rendah hati, serta tidak boleh meremehkan orang lain.

“Saya harapkan setelah acara ini digelar kedepannya ada pertunjukan lagi, seperti setiap kali menggelar khitanan hingga resepsi pernikahan di Indonesia,” ucap warga Desa Jagalan, Kecamatan Karangnongko ini.

Sementara itu, Ayyash merasa beruntung karena di pesta pernikahannya digelar dengan cara yang unik.

“Sebenarnya saya bilang ke ayah untuk diselenggarakan secara sederhana saja. Tapi teman-teman KPBI meminta sekalian ada tradisi panahan berkuda saja, sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan ke masyarakat luas jika beginalah budaya yang dilakukan para wali terdahulu,” jelas anak pertama dari enam bersaudara yang 5 Juli lalu genap berumur 17 tahun tersebut.

Salah satu tamu undangan, Wijiyanto, 60, mengaku takjub karena baru pertama kalinya melihat hiburan resepsi pernikahan dengan panahan berkuda. Dirinya menilai biasanya hiburan pernikahan adalah dangdutan maupun kosidahan.

”Tentunya saya sangat terhibur dengan pertunjukan panahan berkuda ini, saya sangat menikmatinya karena begitu asyik, beda dari acara resepsi pernikahan lainnya” pungkasnya. (ren/nik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here