Budaya di Keraton Dituding Merosot

Budaya di Keraton Dituding Merosot

0
Wisatawan menikmati keindahan Keraton Kasunanan Surakarta.

SOLO – Sedikitnya sebanyak tiga kali prosesi adat Tingalan Jumenengan Dalem tak dihadiri Paku Buwono (PB XIII) Hangabehi selaku raja Keraton Kasunanan Surakarta. Penyebabnya, konflik internal antarkerabat tak kunjung terselesaikan.

Pakar sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Sutanto menilai, kondisi tersebut merupakan bentuk kemerosotan budaya di dalam keraton. Ditekankannya, Tingalan Jumenengan Dalem, tari Bedhaya Ketawang dan kehadiran raja tidak dapat dipisahkan.

“Tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Kalau seperti ini kan esensinya tidak ada. Maka yang paling baik ya dirampungkan internal,” ungkapnya kemarin (26/3).

Sutanto mengapreasi upaya pemerintah sebagai fasilitator mendamaikan para kerabat keraton. “Namun yang paling jelas harus ada kesepakatan antarkeluarga keraton sehingga bisa satu suara dalam menentukan segala hal. Termasuk Tingalan Jumenengan Dalem,” kata dia.

Sementara itu, pihak yang berseberangan dengan PB XIII Hangabehi tetap menggelar Jumenengan Bedaya Ketawang pada 22 April. Mereka menganggap raja tidak memiliki esensi melangsungkan Tingalan Jumenengan Dalem. Hal ini berarti tetap diadakan dua versi Jumenengan di keraton seperti tahun-tahun sebelumnya.