Perjuangan Widodo, Penyandang Disabilitas dalam Mencari SIM D

Perjuangan Widodo, Penyandang Disabilitas dalam Mencari SIM D

0
Widodo saat pemotretan untuk pembuatan SIM D. ANGGA PURENDA/RADAR KLATEN

KLATEN – Kendati menderita polio sejak usia 1,5 tahun yang menyebabkan pertumbuhan kakinya tak sempurna. Tapi tak menghalangi Widodo, untuk membuat Surat Izin Mengemudi (SIM) D. Lantas bagaimana Widodo menjalani tahapan tes baik teori maupun pratik? Berikut kisahnya.

 

Siang itu di kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Klaten sejumlah disabilitas sedang antre mendaftarkan diri mengikuti tahapan tes SIM D. Diantara mereka tampak Widodo, 42, dengan mengenakan kursi roda terlihat bersemangat mengikuti rangkaian tes yang digelar. Dibantu dengan sesama teman disabilitas lainnya, dirinya yang berada di kursi roda didorong menuju ke ruang pemotretan.

Keterbatasan fisik bukan lagi menjadi penghalang bagi Widodo untuk memiliki SIM D, seperti kebanyakan orang lainnya. Selama ini model kendaraan yang dikendarai Widodo sudah melalui proses modifikasi dengan menambah tempat untuk kursi roda yang diletakan pada sisi samping kiri maupun kanan.

“Saya sebenarnya punya keinginan cukup lama untuk memiliki SIM D sendiri, tapi saya tak tahu bagaimana mengurusnya. Kebetulan saya mendapat informasi jika teman-teman disabilitas akan mengadakan pembuatan SIM D secara kolektif, langsung saja saya ikut. Soalnya sudah 15 tahun saya mengendari sepeda motor tanpa punya SIM,” terang Widodo, Selasa (21/3).

Pria asal Desa Bendungan, Kecamatan Cawas ini dalam kesehariannya untuk beraktivitas menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi. Dirinya mengakui meski mengendarai sepeda motor seorang diri, tapi jarang melintasi jalan utama. Dia memilih jalan-jalan alternatif yang melewati sejumlah desa untuk mencapai tempat yang dituju. Hal itu dilakukan karena dirinya tak ingin bersinggungan dengan kendaraan ukuran besar seperti truk.