Ketegaran Gadis Pembatik untuk Menopang Ekonomi Keluarganya

Ketegaran Gadis Pembatik untuk Menopang Ekonomi Keluarganya

0
Hartini dengan rutinitas membatik dalam kesehariannya. IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI

WONOGIRI – Kendati punya keterbatasan fisik, tapi gadis 27 tahun asal Dusun Nalangan, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno ini tetap tegar menopang kehidupan keluarga besarnya. Gadis lulusan SD ini terpaksa harus membatik untuk membiayai hidup ayah dan ibunya, serta kakak laki-lakinya yang lumpuh. Berikut kisahnya.

Sebuah rumah berdinding kayu di Dusun Nalangan RT 2 RW 4, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno menjadi saksi bisu keluarga kurang mampu ini. Hartini, 27, anak bungsu pasangan Marimin, 67, dan Warsi, 58, ini tengah menyelesaikan pekerjaannya membatik.

Ayahnya, yang sudah renta hanya bisa duduk di balai-balai rumah bagian dalam. Selain sudah sepuh dan sakit-sakitan selama tiga tahun terakhir, ayahnya juga mengalami kelainan pada kulitnya yang memiliki daging tumbuh disekujur tubuhnya. Sedangkan ibunya yang hanya ibu rumah tangga terkadang bekerja sebagai buruh tani serabutan.

“Setiap hari membatik, upahya selembar batik Rp 5 ribu. Kalau ibu kadang serabutan, seperti buruh-buruh tani,” kata Hartini sembari terus membatik.

Di dalam sebuah bilik di rumah joglo limasan itu terbaring tak berdaya Wardi, kakak kedua Hartini. Wardi sejak 7 tahun lalu lumpuh karena terpeleset, lalu terjatuh saat mengambil air di sebuah mata air tak jauh dari rumahnya. “Kakak sudah 7 tahun lumpuh, dulu ambil air di belik lalu terjatuh,” ujar Warsi yang iku terlibat dalam perbincangan.